Posted by: persfeunj | 1, August 2009

Menafsir Darma Mengukir Peradaban

Tri darma adalah kewajiban setiap perguruan tinggi. Keterkaitan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat adalah proses membaca, guna mengukir peradaban. Sudahkah kita menyadarinya?
Selamat datang bagi mahasiswa baru angkatan 2009, ucapan patut kita sampaikan kepada para mahasiswa terpilih. Semangat kerja keras berkompetisi dengan ratusan ribu bahkan jutaan mahasiswa memperebutkan kurang lebih 4000 kursi di kampus hijau ini. Segenap asa mulai berlabuh, lembaran putih, dan pena bersiap-siap menggoreskan tingkah laku mereka di kampus ini. Gelar “mahasiswa” adalah penghargaan tertinggi bagi mereka untuk mulai mengukir karya dan prestasi. Suasana kebebasan akademik mulai didengungkan sebagai makna dari sebuah gelar. Lalu apa arti dari sesosok mahasiswa?
Menjadi mahasiswa bukan sekadar kenaikan tingkat dari siswa menjadi maha, melainkan pembentukan sikap, karakter, dan mental menjadi dewasa. Kuliah di Universitas adalah wahana membentuk kematangan berpikir, dimana berpatokan kepada tiga hal intelektual, emosional, dan spiritual. Kematangan intelektual diterjemahkan melalui berpikir sistemik, terstruktur dalam menelaah keilmuan. Kematangan emosional diaplikasikan melalui berpikir situasional, baik terhadap individu maupun sosial. Kematangan spiritual bermakna seseorang mampu menerjemahkan makna dan nilai atas semesta raya ini. Proses menuju kematangan berpikir disertai pemaknaan darma secara mendalam. Apa hakikat darma bagi kehidupan kampus?
Darma bagi kehidupan kampus adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai perguruan tinggi. Dalam UU sisdiknas pasal 20 ayat 3 menerangkan bahwa kewajiban perguruan tinggi terdiri dari tiga hal yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tiga kewajiban ini terkenal dengan nama Tri Darma perguruan tinggi. Apa makna tri darma perguruan tinggi? Dan sudahkah berjalan di kampus ini?
Darma yang pertama adalah pendidikan. H.A.R. Tilaar mengatakan bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan. Sedangkan menurut YB Mangunwijaya pendidikan adalah ‘belajar sejati’, yakni mengantar dan menolong anak didik untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa, dan utuh. Tujuan pendidikan menurut Paolo Freire adalah memanusiakan manusia. Oleh karena itu universitas bukan hanya wahana transfer ilmu pengetahuan akan tetapi bertujuan membentuk manusia yang intelektual, bermoral, berbudaya, serta berkepribadian dewasa. Elemen birokrat dan dosen harus mampu menyadari dan menginterpretasikan hakikat mendidik dan mengarahkan peserta didik. Mahasiswa harus menyadari dan kritis bagaimana ia dididik dan diarahkan kepada pengenalan potensi diri. Model pendidikan konservatif seperti dosen mengajar dan murid belajar, lalu dosen adalah penentu segala-galanya sangatlah tidak tepat. KH Ahmad Dahlan mengatakan bahwa jika seseorang menjadi guru maka ia belajar untuk  menjadi murid, artinya dosen harus mau belajar dari mahasiswa dan mahasiswa harus mau belajar dari dosen. Dosen berhak mengajar mahasiswa namun mahasiswa berhak mengkritik dosen tentunya sesuai dengan etika moral yang berlaku.  Setelah menyadari hakikat pendidikan maka kewajiban apa yang patut dilaksanakan untuk mendukungnya?
Darma yang kedua adalah penelitian. Kata ‘penelitian’ dalam bahasa Inggris adalah ‘research’ yang merupakan gabungan dua kata yaitu ‘re’ (kembali) dan ‘search’ (mencari), sehingga arti kata penelitian adalah mencari kembali. T. Hillway dalam buku introduction to research menjelaskan bahwa “penelitian adalah penyelidikan secara hati-hati dan sempurna atas sebuah masalah, sehingga ditemukan pemecahannya”. Woody mendefinisikan penelitian sebagai metode menemukan kebenaran dengan berpikir kritis. Inti dari penelitian adalah kemampuan memecahkan masalah. Semakin kompleksnya permasalahan yang dialami dunia baik sosial maupun sains menjadi tantangan kaum intelektual untuk memecahkannya. Mahasiswa dituntut secara keilmuan untuk bisa memecahkan permasalahan-permasalahan baik saat ini maupun masa datang. Bagaimana realita penelitian di UNJ?
Kita patut bangga dunia penelitian mahasiswa di UNJ makin berkembang tahun ke tahun dengan peningkatan lolosnya proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mencapai 62 tim, 142 proposal PKM Gagasan Tertulis berhasil dikirim ke Dikti. Akan tetapi ini baru peningkatan kuantitas belum merambah kepada aspek kualitas. Selain itu minimnya penelitian dosen masih menjadi kendala kenapa dunia penelitian di UNJ masih kalah bersaing dengan universitas lainnya. Satu hal yang perlu dicermati serius adalah peran lembaga penelitian UNJ dalam memompa kegiatan penelitian ilmiah masih rendah. Realita penelitian menjadi sebuah perenungan bagaimana konsep darma yang ketiga dapat berjalan?
Darma ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat. Masyarakat merupakan elemen pembentuk sebuah negara, disanalah berbagai permasalahan seringkali timbul. Dunia akademik dibangun bersumber dari masyarakat, oleh sebab itu arahan yang terpenting dalam pembangunan keilmuan adalah efek untuk masyarakat. Output mahasiswa adalah bagaimana ia bisa menerapkan pengetahuan dan skil yang dimiliki untuk pemberdayaan masyarakat. Ideologi nilaisme dan kerjaisme masih menjadi hal dominan yang dipahami mahasiswa ketika belajar di perguruan tinggi. Padahal hakikat belajar di perguruan tinggi bukan hanya sebuah nilai maupun mendapatkan pekerjaan yang dikehendaki, yang paling esensial adalah bagaimana pengetahuan yang didapat di bangku kuliah bisa diimplementasikan untuk mengatasi persoalan masyarakat. Setelah menyadari tafsir tri darma lalu apa kaitannya dengan kebebasan akademik?
Ketika sebuah Universitas mengklaim sebagai wahana kebebasan akademik maka ini merupakan konsekuensi logis untuk menanamkan tri darma perguruan tinggi. Kebebasan akademik menurut William W.Brickman, adalah hak seorang dosen untuk mengajar, serta hak seorang mahasiswa untuk belajar tanpa adanya pembatasan dan pencampuran dengan hal-hal yang tidak rasional. Tanpa kebebasan maka tri darma tidak akan berjalan efektif, namun setelah kebebasan terwujud maka tri darma harus ditanamkan dan dioptimalkan. Bisakah tri darma dengan kebebasan akademiknya membangun peradaban?
Majunya peradaban bangsa ditandai dengan majunya pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Ketiganya diperoleh dengan membaca. Prof. DR. Quraish Shihab dalam buku “membumikan AlQur’an” menulis bahwa membaca merupakan syarat utama membangun peradaban. Intelektual seseorang diukur dengan seberapa banyak ia telah membaca buku dan kehidupan. Kita masih ingat bahwa yang membedakan zaman sejarah dengan pra-sejarah adalah kemampuan baca tulis. Kemampuan inilah yang mengubah peradaban dari orang kepada manusia. Bagaimana dengan hiruk pikuk di UNJ, apakah terlena untuk mengevaluasi kualitas tri darma?
Peluh keringat dan bosannya menunggu pembayaran uang daftar ulang di bank. Biaya jutaan dikeluarkan untuk sebuah investasi jangka panjang. Orang tua pontang-panting mencari uang untuk kuliah. Birokrat dan panitia MPA sibuk untuk menyambut mahasiswa baru. Semuanya sudah menjadi pemandangan sehari-hari di awal tahun ajaran baru. Semoga keadaan ini tidak melenakan diri untuk memperbaiki kualitas darma kita, sebab dengan inilah waktu, biaya, tenaga, dan pikiran yang telah tercurah perlahan-lahan mengukir karya untuk peradaban nusantara. Bisakah kita mewujudkannya?
Luthfi Lazuardy
Mhs Akuntansi 06


Responses

  1. wow. GREAT. luar biasa kawan tulisanmu, sepertinya kita harus sharing banyak hehe saya terhentak dan sedikit terhenyak membaca tulisanmu, banyak pelajaran yang saya petik. I do agree with you

    kalo tidak keberatan sudilah kiranya sobat meng-add Facebook saya
    oktaviansyah_diplomat@yahoo.com

    salam
    oktaviansyah yahanan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: